theplateofspirit

Antusias Dalam Melayani Tuhan

Pernahkah pertanyaan-pertanyaan berikut ini terpikirkan oleh kita?
Mulai dari umur berapakah kita mengenal Tuhan? Mungkin ada yang berkata mulai dari kita kecil karena keluarga kita adalah keluarga Kristen dan mungkin ada yang berkata lain, kita baru mengenal Tuhan ketika berumur 20, 25 atau 40 karena memang kita bukan berasal dari keluarga Kristen.
Sudah seberapa lamakah kita telah melayani Tuhan? Mungkin ada yang berkata 1, 3, 5, 10, 15, 30, 50 tahun atau lebih lagi.
Pernahkah suatu saat kita mulai merasa bosan dengan pelayanan kita?
Mungkin ada yang berkata iya mungkin juga ada yang berkata tidak.
Jikalau jawaban kita adalah iya, apakah yang selanjutnya kita lakukan jika kita sudah mulai bosan dengan pelayanan kita? Mungkin ada yang berkata kita akan melepaskan dan meninggalkan pelayanan itu semua dan mungkin juga ada yang berkata kita akan tetap melayani tetapi mungkin antusias kita tidak seperti pertama kali ketika kita baru melayani Tuhan.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan jikalau kita sudah mulai merasa bosan dan tidak antusias lagi dalam melayani Tuhan, akan menjadi sia-sialah setiap apa yang kita lakukan karena motivasi kita telah menjadi salah. Dulu disaat kita pertama kali melakukan pelayanan, kita melakukannya oleh karena kita mencintai Tuhan tetapi sekarang kita melakukannya bukan oleh karena dasar kita mencintai Tuhan tetapi lebih kepada sebuah rutinitas atau hanya karena sebuah tanggung jawab.
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita tidak lagi antusias dalam melayani Tuhan seperti dulu disaat pertama kali kita mengenal Tuhan?

Roma 12:11
Ada 3 hal yang membuat kita tidak lagi antusias dalam melayani Tuhan, yakni sebagai berikut:
Merasa sudah puas atas apa yang telah kita lakukan – Yosua 12:24; 13:1; 14:10-13
Kepuasan membunuh antusias, karena ketika kita telah merasa puas dengan apa yang kita lakukan, kita akan menjadi tidak bersemangat lagi didalam melakukan pelayanan kita. Suatu perumpamaan, dulu ketika kita baru pertama kali melakukan pelayanan, kita akan mempersiapkan dengan sebaik mungkin bahkan seminggu sebelumnya kita telah mempersiapkannya. Tetapi dengan berjalannya waktu kita tidak lagi mempersiapkan pelayanan kita jauh-jauh hari bahkan terkadang kita baru mempersiapkannya satu hari sebelum pelayanan. Itu adalah sebuah contoh dimana kita telah merasa puas atas apa yang kita lakukan dan karenanya kita seringkali menganggap sebuah pelayanan hanyalah sebuah rutinitas saja. Oleh karena itu, janganlah kita pernah merasa puas dalam pelayanan tetapi selalu mencari kerinduan Tuhan, apa yang ingin Tuhan sampaikan dan kerjakan.
Dan tidak hanya berbicara mencari kerinduan Tuhan saja tetapi juga menangkanlah setiap area dalam kehidupan kita, sehingga kita menjadi pribadi yang sempurna seperti apa yang Tuhan kehendaki. Sebuah perumpamaan, jikalau kita lemah dalam mengatur emosi kita dimana kita mudah sekali untuk marah, berubahlah jadi lemah lembut karena Tuhan kita lemah lembut. Ada beberapa area dalam kehidupan kita yang perlu diubahkan sehingga kita menjadi serupa dengan gambarNya karena Tuhan menciptakan kita seperti demikian. Oleh karena itu, janganlah pernah merasa puas dalam pelayanan dan menangkanlah setiap area dalam kehidupan kita.

Mengalami masa sulit – Yesaya 43:2
Seringkali ketika kita mengalami masa yang sulit dalam kehidupan ini, kita akan lari dari setiap permasalahan yang ada bukan menghadapi dan menyelesaikannya. Sebuah perumpamaan, pada waktu kita kecil ketika kita bermain sepak bola dan saat kita menendang bola dan bola tersebut mengenai seseorang yang sedang bersepeda maka kita akan lari sekencang-kencangnya agar tidak dimarahi oleh orang tersebut. Sebagai seorang Kristen seharusnya kita tidak lari dari sebuah permasalahan yang ada tetapi kita harus menghadapi itu semua, kita harus meniru teladan Yesus Kristus dimana ketika Ia akan disalibkan, Ia tidak menolak meskipun Ia sangat mampu untuk menolak dan meniadakannya. Tetapi apa yang Ia lakukan, Yesus tetap melewati proses salib itu dan mati bagi setiap kita. Oleh karena itu, seharusnya kita bukan berlari dari setiap proses tetapi melewati setiap proses yang ada dalam hidup kita, karena kitapun tidak melangkah sendirian karena Tuhan selalu menyertai kita. Dan permasalahan yang ada dalam hidup kita adalah alat bagi Tuhan untuk membawa kita naik ke atas bukan membawa kepada kemunduran karena kitapun telah ditetapkan oleh Tuhan sebagai kepala bukan ekor.

Hidup yang tidak seimbang – Kisah Para Rasul 20:28
Tidak adanya sebuah urutan prioritas yang baik dalam hidup ini akan membuat hidup kitapun menjadi kacau dan tidak seimbang lagi. Berbeda jikalau kita memiliki urutan prioritas yang benar karena dengan begitu kita menjadi tahu urutan langkah apa saja yang harus kita lakukan. Sebuah perumpamaan, misal kita sedang mengerjakan sebuah proyek pembangunan yang mana dalam setiap proyek tentunya terdiri atas sub-sub proyek. Jikalau kita tidak tahu sub proyek mana saja yang menjadi prioritas utama dalam proyek itu maka pembangunannya pun tidak akan berhasil melainkan akan menjadi kacau, berbeda jikalau kita tahu sub proyek mana yang menjadi prioritas yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Oleh karena itu, milikilah prioritas yang benar dalam hidup kita, berdoa dan mintalah hikmat dari Tuhan untuk menuntun kita menyusun sebuah urutan prioritas dalam hidup kita dan berjalanlah bersama Roh Kudus karena Dia yang akan menuntun kita seperti apa yang Tuhan kehendaki.
Dan tidak hanya memiliki sebuah urutan prioritas yang benar saja tetapi kita juga harus menjaga kerohanian kita, bukan semakin turun tetapi semakin naik, kita harus menjadi teladan yang baik, yang memuliakan nama Tuhan. Serta belajarlah untuk memulai sesuatu yang baik terlebih dahulu sebelum orang lain, maksudnya demikian apa yang kita inginkan untuk orang lain lakukan untuk kita perbuatlah itu terlebih dahulu untuk orang lain.

Selanjutnya, jikalau kita sudah tidak lagi antusias dalam melayani Tuhan, apakah yang harus kita lakukan agar kita menjadi antusias lagi dalam melayani Tuhan?
Kita dapat melakukan 2 hal berikut:
Kembali kepada kasih mula-mula – Wahyu 2:4-5
Kasih mula-mula tidak pernah pergi dari kita tetapi kitalah yang meninggalkan kasih mula-mula itu. Dan karena kita meninggalkan kasih mula-mula, tanpa sadar kita telah menjauhkan diri dari Tuhan, mulai tidak ada hubungan yang intim lagi dengan Tuhan. Sebuah perumpamaan, seorang pria dan wanita ketika mereka berpacaran, mereka menunjukkan kasih yang dalam antara masing-masing individu. Tetapi ketika mereka telah diikatkan dalam sebuah hubungan suami-istri dan dengan berjalannya waktu, keintiman mereka mulai pudar tidak seperti waktu dulu pada saat mereka berpacaran. Mengapa? Apakah kasih mula-mula itu telah hilang? Bukan oleh karena kasih mula-mula itu telah hilang tetapi merekalah yang mulai meninggalkan kasih mula-mula itu, mereka melupakan kasih yang mengikat mereka dalam pemberkatan dan pelaminan. Oleh karena itu janganlah kita meninggalkan kasih mula-mula, tetapi dari hari ke hari perbaharui kasih mula-mula kita kepada Tuhan, semakin intim dengan Tuhan, mengenal dan mengerti pribadi serta isi hati Tuhan.

Selalu nantikanlah Tuhan – Yesaya 40:29-31
Janganlah kita pernah berhenti untuk berharap kepada Tuhan. Janganlah kita berpaling dari Dia yang telah memberikan nyawaNya untuk kita. Sekalipun mungkin yang kita hadapi sangatlah susah bahkan beribu-ribu masalah menghimpit kita bagaikan peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Tetaplah setia dan teruslah berharap kepada Tuhan tanpa rasa jemu, karena orang yang selalu menantikan Tuhan, ia bagaikan seekor rajawali yang tak pernah lelah untuk mengepakkan sayapnya dan terbang semakin tinggi. Ada sebuah perumpamaan, dimana ada seekor keledai tua dan petani tua serta sumur dan rumah tua. Suatu hari petani ini berpikir untuk membunuh keledainya sendiri dengan membuangnya ke sumur tua karena ia merasa keledainya sudah tidak berguna lagi. Kemudian esok hari ketika ia melihat sumur tua untuk melihat apakah keledai itu sudah mati, begitu kagetlah dirinya melihat bahwa keledai itu masih hidup. Tanpa kurang akal, ia mengambil sekop dan mengambil tanah yang ada disebelah sumur tua untuk mengubur keledai itu dalam sumur. Tetapi patut diapresiasi bahwa si keledai meski sudah jatuh dalam sumur tua dan ingin dikubur hidup-hidup semangat juangnya untuk hidup tetap tak tergoyahkan. Dengan sekuat tenaga ia menggoyangkan badannya berulang kali untuk membuang pasir yang dilemparkan oleh petani itu. Beberapa saat kemudian sumur itu menjadi penuh dengan pasir dan apa yang terjadi dengan keledai itu? Ia pun dapat keluar dari sumur itu dan tetap hidup pada akhirnya. Apa yang dapat kita pelajari dari perumpamaan itu? Bahwa janganlah pernah menyerah oleh karena masalah apapun. Seberat apapun masalah yang kita hadapi bahkan sampai mengancam kehidupan kita tetap andalkan dan nantikanlah Tuhan. PertolonganNya tak pernah terlambat tetapi tepat pada waktunya dan tanganNya tidak kurang panjang untuk menolong setiap kita dan telingaNya tidak kurang lebar untuk mendengar seruan doa kita. Selalu setialah kepada Tuhan.
Finally, janganlah kita menjadi tawar hati dalam melayani Tuhan tetapi antusiaslah dalam setiap pelayanan kita. Karena sungguh pelayanan kita akan dipakai Tuhan untuk menjadi alat kemuliaanNya dan percayalah bahwa kitapun akan dibawa Tuhan bukan hanya untuk melihat tetapi untuk mencapai tanah perjanjian yang telah Tuhan janjikan atas setiap kita. Tuhan Yesus memberkati dan selalu menyertai kita. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s